Masalah Waktu
Akulah gadis kurus si penyendiri, tak banyak bicara dan tak suka dibicarakan. Mencintai segala imajinasi yang ada dikepalaku, sibuk dengan duniaku sendiri, sibuk dengan keacuhan sendiri. Namun aku menikmatinya. Tak banyak bergaul dengan orang-orang, mereka tidak memahamiku. Aku lebih memilih bermain-main dengan anjing peliharaanku, mengamati kelompok semut-semut dan berdiskusi dengan rumput-rumput. Mereka jauh lebih memahamiku.
Kala itu aku hanya gadis belia berusia 13 atau 14 tahun, duduk dibangku SMP. Menghabisakan waktu diperpustakaan, membaca buku atau bermain catur dengan teman sebaya. Terkenal pendiam dan penyendiri. Namun bukan berarti aku tak punya teman. Aku punya 3 orang teman yang selalu bersamaku, bercerita banyak dengan mereka, namun tetap saja aku punya rahasia dari mereka. Selain pendiam aku juga punya keahlian menyimpan sebuah rahasia, sehingga tak seorang pun menyadarinya. Salah satu rahasia terbesarku adalah “Jatuh Cinta”.
Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyembunyikan atau merahasiakannya, hanya saja ini sangat memalukan. Kadang aku berfikir untuk memberitahukan kabar ini, sedikit saja. Tapi ah, tidak usah, aku malu. Aku mendapati diriku sendiri sedang dilanda asmara, namun tak ada yang bisa kulakukan. Karna, selain pendiam rupanya aku juga pecundang.
Aku menyukai semua yang ada padanya, tasnya,sepatunya, dan tulisannya. Aku juga menyukai segala yang dilakukannya, caranya berjalan, berbicara, caranya menatapku atau sekedar melirik ke arahku. Aku juga suka caranya menyentuh tanganku sekalipun tidak sengaja, dan entah apa yang dipikirkannya tentangku, yang pasti aku tau apa yang kupikirkan tentangnya.
Namun, menjauhinya adalah satu-satunya cara untuk ke untuk menyangkal semua itu, mencoba mengelabui orang-orang, mengelabuinya, mengelabuiku. Jangan sampai orang curiga, jangan sampai orang tau.
“Kamu suka sama keenan ya?", tanyanya tiba-tiba tanpa basa-basi. Kadang kala dia memang suka berkunjung ke mejaku, kadang duduk dibelakang ku.
“Hah? Mmhm enggaaa", jawabku sedikit protes dan gugup tanpa persiapan menyajab pertanyaannya.
"Tapi kulihat akhir-akhir ini kalian sering bersama", katanya menanggapi jawabanku.
“Bersama bagaimana? Berantem iya”, jawabku lagi.
Entah kenapa dia bisa berpikiran seperti itu. Keenan dan aku cukup sering bicara, lebih sering berantam lebih tepatnya, dia memang suka mengganggu, dan aku tidak suka diganggu.
Tapi ku pikir dia memang tidak peka sama sekali atau hanya pura-pura? Aku menyukainya namun dia berprasangka dengan orang lain. Cemburukah dia?
Ohh ya, bagaimana dia bisa tau aku menyukainya, aku kan terlalu pecundang bahkan hanya untuk menunjukan rasa peduli.
Tak pernah sekalipun aku berencana untuk tertarik padanya, namun semakin hari keadaanku semakin parah. Sehari-hariku ku habiskan memikirkannya, malam-malamku merindukannya, dan di setiap mimpiku dia datang untuk berkunjung hingga aku larut didalamnya. Hari demi hari, perasaanku pun tumbuh semakin tak terkendali. Sepertinya ini lebih dari sekedar kagum, tertarik, atau suka, bagaimana jika benar? Apa yang harus ku lakukan?
Terdengar konyol, namun dia adalah motivasiku untuk belajar, dia juara pertama dikelas dan pada akhirnya aku pun mendapatkan posisi kedua. Betapa bahagianya, apalagi saat dia tersenyum kearahku seolah mengucapkan ungkapan selamat. Aku sangat jarang bicara dengannya, ah lupakan soal bicara, untuk berdiri didekatnya saja bisa membuatku melakukan hal-hal bodoh. Sungguh berbeda dengan anak-anak jaman sekarang yang jauh lebih agresif.
Waktu terus berjalan tanpa negoisasi atau sedikit mempertimbangkan kebahagiaanku. Hari perpisahan tepat didepan mata. Dia pun tepat didepan mata, namun dia di seberang sana. Tak seperti biasanya yang hanya mencuri-curi pandang, kali ini aku menatapinya terang-terangan, dia juga. Aku hanya tak ingin lupa wajahnya.
Aku mulai takut, bagaimana aku akan melewati hari-hariku tanpanya?, bagaiman jika aku merindukannya?, bagamana aku akan mengatasi perasaanku padanya? Karna aku pun belum pernah seperti ini sebelumnya. Ingin ku meneriakinya, dan mengatakan semuanya, namun ku urungkan juga. Ku pikir ini hanya ilusi, ini tidak nyata, perasaan ini hanya sementara. Ini hanya masalah waktu, semua akan berlalu.
Sekarang sosial media sangat populer di semua kalangan masyarakat, dari yang tua, muda bahkan anak-anak memilikinya. Beberapa diantaranya adalah facebook, line, whatssap, twitter atau instagram. Aku menggunakan beberapa, termasuk facebook.
Ketika log-in di facebook, betapa terkejutnya aku, “Dia lagi”. Berdiri tegap diantara kedua orang tuanya, tak lupa dengan senyum yang menawan dan penuh kebanggaan. Ibunya cantik juga, pantas saja, pikirku seraya tersenyum. Hari ini dia wisuda, menjadi salah satu lulusan institusi paling bergengsi di Negara ini, dia memang selalu membanggakan. Dia pasti bahagia sekali. Sama, aku juga.
Tujuh tahun sudah berlalu, dan tak pernah bertemu. Memang benar, ini hanya masalah waktu, hanya saja waktu yang dibutuhkan sangat panjang. Di semua “pencarian” di akunku, namanya akan menduduki posisi pertama, ironis sekali.
Ku putuskan untuk mengabaikan postingan itu seperti biasa, mungkin ini hanya masalah waktu, dan akan ku tunggu waktu itu.